Headlines News :
Tampilkan postingan dengan label Suara Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suara Mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Demonstrasi Juga Perlu Etika!


Ardhy Dinata Sitepu (Foto: dok. pribadi)

ALAM demokrasi memberikan ruang ekspresi yang terbuka bagi setiap orang untuk menyuarakan aspirasinya secara bebas dan terbuka. Saat ini, kebebasan dalam berpendapat adalah hak bagi setiap warga negara, tidak ada satu pun aturan perundang-undangan yang melarang seseorang untuk mengemukakan pendapatnya di muka umum. Ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia sudah mengenal dan mengakui hak-hak individu, terutama hak mengemukakan pendapat di muka umum. Sebenarnya, jika dilihat dari sejarah, kebebasan berpendapat di muka umum bukan merupakan warisan sejarah abad modern. Jauh sebelum AS melakukan ekspansi ideologi demokrasi, bangsa Indonesia sudah mengenal budaya unjuk rasa yaitu pada masa Keraton Surakarta. Ketika itu, unjuk rasa didefinisikan sebagai bagian kontrol sosial terhadap kebijaksanaan raja atau istana.
Meskipun Indonesia sudah dikatakan mapan, baik dari sejarah maupun pengalaman dalam berdemokrasi, namun budaya demontrasi di Indonesia kerap kali dijalankan dengan cara-cara yang anarkis. Tindakan anarkis para demonstran dalam merespons film  “Innocent of Muslims” di depan kedutaan AS di Jakarta merupakan salah satu bentuk penyimpangan dalam berdemokrasi. Kontroversi atas film  “Innocent of Muslims” memang patut untuk dikecam bersama, karena telah menghina hal yang paling fundamental dalam tradisi agama Islam. Meskipun demikian, tidak ada pembenaran atas perilaku anarkis selama proses demonstrasi berlangsung.

Gelombang protes atas film “Innocent of Muslims” seirama dengan Yasmin Revolusion di Timur Tengah. Gelombang protes ini bergerak secara cepat dalam model yang hampir mirip. Gelombang ini bermula dari Timur Tengah hingga menyebar ke Asia dan seluruh dunia. Dari berbagai aksi protes di depan kedutaan AS di berbagai negara, kecenderungan yang terjadi adalah aksi kekerasan yang disertai perusakan dan pembunuhan. Bahkan di Libya, empat orang diplomat AS terbunuh selama gelombang aksi yang dilakukan pada 11 September lalu. Gelombang protes ini juga terjadi di negara-negara lainnya seperti Tunisia, Pakistan, Indonesia hingga Australia.

Aksi demontrasi dengan kekerasan dan pengerusakan notabenenya hanya menimbulkan kerugian bagi rakyat Indonesia. Selama protes film  “Innocent of Muslims” ini, ormas-ormas yang melakukan demonstrasi telah merusak fasilitas umum dan melakukan kekerasan terhadap pihak keamanan. Pada dasarnya, biaya perbaikan fasilitas umum tersebut akan ditanggung kembali oleh rakyat Indonesia sendiri. Selain itu, perusakan terhadap kedutaan AS di Indonesia merupakan tindakan yang dapat mengancam posisi Indonesia di dunia internasional dan eksistensi hubungan Indonesia-AS. Dalam etika dunia diplomasi, keberadaan kantor perwakilan negara (Extra Ordinary Territory) merupakan wilayah yang tidak boleh disentuh, bahkan oleh hukum negara penerima.

Sebenarnya, aksi protes bisa dilakukan dengan cara yang bijak dan cerdas. Saat ini kita sama-sama menyadari bahwa aksi unjuk rasa sering kali diabaikan oleh pihak penguasa karena tidak memberikan pengaruh yang besar. Bahkan terkadang, aksi unjuk rasa hanya sekadar tindakan seremonial simbolis. Padahal bentuk protes untuk merespons pembuatan  film  “Innocent of Muslims” bisa dilakukan dengan cara yang lebih mengena, seperti  pemboikotan produk-produk AS yang ada  di Indonesia. Gerakan seperti ini diharapkan akan memiliki efek jera yang berdampak sistemik sehingga bisa mendorong AS untuk menindak tegas pembuat film  “Innocent of Muslims” yang dikecam dunia internasional.

Ardhy Dinata Sitepu
Ketua BEM FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Periode 2012-2013
(//rfa)

Demokrasi yang Sehat!


Opialeta Putri (Foto: dok. pribadi)

GELOMBANG penolakan dan kecaman terhadap film yang berjudul ''Innocence of Muslims'' terus saja terjadi di berbagai belahan dunia, tanpa terkecuali di Indonesia. Film ini pertama kali diposting ke Youtube pada 1 Juli 2012 namun tidak begitu menarik perhatian publik. Lalu stasiun televisi Mesir Al-Nas menayangkan cuplikan film tersebut pada 8 September 2012. Film ini pun mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan diposting online. Lalu dalam beberapa hari telah dilihat oleh ratusan ribu orang.
Film ini menggambarkan Islam sebagai agama penuh kekerasan dan Nabi Muhammad sebagai orang bodoh serta haus kekuasaan. Ini diawali dengan adegan di mana sebuah keluarga Koptik di Mesir yang diserang oleh sekelompok umat Islam sementara polisi nampak diam saja. Lalu, sang ayah berkata kepada putrinya bahwa umat Islam ingin membunuh semua orang Kristen.

Gambaran selanjutnya adalah berkisah tentang kehidupan Nabi Muhammad, keluarganya dan para pengikutnya di padang pasir. Dalam film ini digambarkan Muhammad berhubungan seks dengan istrinya, Khadijah dan wanita lainnya. Trailer film ini juga menggambarkan Muhammad dan pengikutnya sebagai pembunuh, perampok dan pemeras.

Memang sudah sepatutnya dan wajar kalau umat Muslim di seluruh belahan dunia marah dan mengecam keras terhadap beredarnya film ini. Namun yang perlu diperhatikan tindakan penolakan itu selayaknya jangan sampai merugikan orang lain. Tentunya boleh saja kita berdemo, menyampaikan aspirasi dengan cara yang baik. Jangan terpancing isu-isu provokatorik yang justru akan memecah tali persatuan antara sesama muslim. Toh kita diajarkan untuk saling menyayangi dan menghormati satu sama lain, bukan?

Jadilah masyarakat yang cerdas, tidak mudah terpengaruh isu SARA, mencoba menelaah setiap kejadian yang ada, jangan mudah terbakar emosi sesaat. Praktikkanlah demokrasi yang sehat dan bertanggung jawab, demokrasi yang pada akhirnya dapat memberikan dampak yang signifikan untuk sesama. Tak ada gunanya demonstrasi yang hanya menghabiskan waktu, tenaga, dan tentunya jangan sampai memakan korban jiwa.

Opialeta Putri
Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
PHN Humas Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia
(//rfa)

Perilaku Kerdil Film Innocence of Muslims


Rusmini (Foto: dok. pribadi)

FILM anti-Islam yang diproduksi Amerika telah menuai protes umat Islam di seluruh lapisan dunia. Berbagai respons yang muncul merupakan letupan perasaan yang membakar atas penghinaan terhadap Rasulullah SAW.
Film bertajuk “Innocence of Muslims” (IoM) menggambarkan Nabi Muhammad SAW seperti badut, gila dan penggemar seksual. Padahal, dalam sirah umat Islam mempelajari bahwa Rasulullah adalah manusia teragung sejagad raya dan akhlaknya seperti Alquran berjalan. Perilaku yang menjunjung tinggi nilai kearifan, sehingga musuh pun tidak kuasa membenci Rasulullah.

Orang kafir digambarkan dalam sirah bukan mengingkari Rasulullah, melainkan mereka tidak menuhankan Allah. Karena jika menjadikan Allah sebagai Tuhan, maka manusia harus meninggalkan thagut, berhala, tidak bebas berzina dan minum arak sebagaimana kebiasaan mereka, harta mereka tidak bebas digunakan untuk foya-foya dan harus digunakan untuk kebaikan di jalan Allah.  Artinya, orang kafir paham benar ajaran yang dibawa Rasulullah sehingga mereka menentang karena kesombongan yang membelenggu jiwa mereka; sifat sombong yang diwariskan iblis sebagaimana juga saat tidak mau menghormati Nabi Adam as. Oleh karena itu, Allah mengharamkan surga bagi siapa pun yang tersimpan rasa sombong dalam dirinya.

Film IoM merupakan bagian dari kesombongan orang kafir sebagaimana pendahulu mereka juga menghinakan Rasulullah. Intimidasi dan ancaman dibunuh adalah hal yang biasa bagi Rasulullah. Tidak saja ketika Nabi Muhammad telah wafat, setelah beliau tiada pun masih saja mereka dengki. Seiring berjalan waktu, orang kafir terus melakukan upaya agar Islam tidak lagi ada di muka bumi ini. Berbagai pesan terselubung mereka lakukan, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Namun Allah akan terus menjaga eksistensi Islam melalui orang-orang yang tulus ikhlas hidupnya mengabdi kepada Allah.

IoM bukan pertama kali penghinaan terhadap Rasulullah melalui media, tapi diawali pembuatan karikatur Nabi Muhammad SAW di Prancis beberapa waktu lalu. Pada saat Rasulullah masih hidup, ketanpanan Rasulullah dapat membius setiap orang yang memandang wajahnya. Namun dalam karikatur tersebut, Nabi Muhammad SAW digambarkan begitu jelek, pun demikian dengan film IoM. Sangat berbanding terbalik dengan kenyataan.

Devie Rahmawati, selaku Peneliti Kajian Budaya dari Universitas Indonesia (UI) mengatakan bahwa film Innocence of Muslims adalah wujud dari ketakutan Barat terhadap Islam. Orang kafir kehilangan akal bagaimana caranya agar Islam musnah. Dalam paparannya kepada wartawan beberapa waktu lalu, Devie berpendapat, berbagai macam cara sudah dilakukan, namun Islam semakin kokoh. Justru sejak peristiwa di World Trade Center pada 2001, banyak warga AS ingin mengetahui Islam dan mempelajarinya.

Lawan jadi Kawan

Setiap manusia yang jauh dari kesombongan, menerima dan mencari kebenaran, pasti hidupnya akan ditunjuki kepada jalan yang benar oleh Allah.  Begitu banyak fakta sejarah yang mebuktikan teori ini. Baik pada masa Rasulullah hingga detik ini.

Belajar dari sejarah Islam, dahulu semasa hidup Rasulullah selalu diincar untuk dapat dibunuh. Namun acapkali orang Yahudi yang akan membunuh, ia justru mengucapkan syahadatain atas perilaku Rasulullah. Ketika itu hujan turun pascakaum muslimin mampu menguasai Dzu Ammarr. Kaum muslimin menyebar berlindung di bawah pohon yang jaraknya berjauhan. Rasulullah pun berlindung di salah satu pohon besar sambil membuka bajunya yang basah dan merebahkan tubuhnya.

Orang-orang musyrik dari Ghathafan melihat Rasulullah dari puncak gunung. Nabi Muhammad tidak dikawal para sahabat. Da’tsur mengambil kesempatan strategis ini untuk turun dari gunung dan membunuh Rasulullah. Tiba-tiba Da’tsur sudah berada di depan Rasulullah dengan menghunuskan pedangnya. Dia berkata dengan penuh kemenangan “Hai Muhammad, kali ini siapa yang akan melindungimu dariku?”

Rasulullah saw menatapnya dan berkata dengan penuh ketenangan dan keteguhan, “Allah”. Da’tsur terperangah dengan jawaban Rasulullah. Tangannya mendadak bergetar ketakutan dan pedangnya terjatuh. Rasulullah segera mengambil alih pedang itu dan berkata kepada Da’tsur, “Kini, siapa yang akan melindungimu dariku?”. Da’tsur hanya mampu berkata lemas sambil bergemuruh hatinya, Allah benar ada dan menolong Muhammad sebagaimana dalam sekejap, pedang justru berada di leher Da’tsur yang siap merenggut nyawanya.  

Dengan teguh, Dat’sur berkata “Tidak ada seorang pun yang melindungiku, kecuali engkau mau menolongku!” Akhirnya Rasulullah membebaskan Da’tsur. Ia semakin terpana dengan sikap Rasulullah. Seketika itu juga ia berkata “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Aku selamanya tidak akan mengumpulkan orang-orang untuk mencelakaimu setelah hari ini.”  Setelah kejadian itu, banyak penduduk Ghathafah masuk Islam atas dakwah Da’tsur. Maka dengan ketulusan, lawan jadi kawan. Demikian kekuatan spiritual Rasulullah mampu mengalirkan energi ketenangan bagi lawannya. Subhanallah…

Reaksi Dat’sur yang berniat membunuh Rasulullah juga seperti halnya yang dilakukan pembuat film IoM. Sama-sama ingin memusnahkan Islam. Bedanya, Da’tsur tidak sombong saat melihat keajaiban itu datang. Ia tidak takut dianggap pengecut dan penghianat ketika beralih berislam oleh kaumnya. Sedangkan oknum pembuat film IoM terus bertahan dengan kesombongan. Namun lihatlah sikap Rasulullah saat dihinakan oleh Dat’sur. Nabi Muhammad tidak lantas membunuhnya. Sebaiknya, ia membebaskan selama ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan bodohnya lagi.

Hal ini sejalan dengan pesan Ustadz Yusuf Mansyur dalam tausiyahnya terkait film IoM. Ustadz kondang itu menegaskan kesantunan bereaksi bukan berarti tidak peduli. Rasa marah itu harus ada, tapi bukan berarti harus anarkis.  Demikian juga yang disampaikan Syamsi Ali Imam Mesjid New York. Beliau menegaskan, boleh saja muslim beraksi dengan demonstrasi  turun ke jalan, namun perlu hati-hati agar tidak merugikan dan mencerminkan bahwa Islam itu keras. Sebaliknya, kita balas perilaku bejat produksi film IoM tersebut dengan cara yang elegan. Melawan dengan tidak anarkis bukan berarti terima dihina. Sebaliknya, Islam menawarkan solusi perdamaian.

Sejurus dengan itu, Ketua Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Muhammad Ilyas turut menyuaraan pendapat. Menurut Ilyas, setiap orang memiliki hak berekspresi dan berpendapat termasuk dalam pembuatan karya berbentuk film. Tapi semua ada batasnya, termasuk jangan sampai mendiskreditkan Islam sebagai sebuah entitas keumatan.

Seluruh elemen muslim sepakat mengecam keras film IoM. Masyarakat Barat pun semakin antusias memperlajari Islam karena selalu dimusuhi dan membalas dengan cara yang baik.  Namun para pejabat AS mengatakan, bahwa pihak berwenang tidak menyelidiki Nakoula, sang sutradara, terkait filmnya itu. Memproduksi film yang dapat menyebabkan kekerasan tidak dianggap sebagai kejahatan di Amerika Serikat. Sebab Amerika Serikat memiliki undang-undang yang kuat mengenai kebebasan berbicara.

Oleh karena itu, penulis sepakat dengan ungkapan ketua KAMMI Pusat yang kembali menegaskan “Semua orang dapat berkarya, tapi ada batasnya. Jika melebihi batas, KAMMI siap berdemonstrasi menuntut pelakunya diseret ke pengadilan HAM internasional”.

Perlu adanya kerjasama dalam memerangi film IoM dengan cara yang halus. “Film dilawan dengan film,” tutur salah seorang anggota pengurus KAMMI Pusat. Walaupun demikian, selain demonstrasi perlu ada perlawanan dengan pembuatan film yang menunjukkan keagungan perilaku Rasulullah. Sehingga kharisma Rasulullah dapat dipelajari  orang Barat. “Mereka kaum yang tidak mengetahui”, tandas Ustadz Yusuf Mansur. Wallahu’alam.

Rusmini
Mahasiswa Universitas Negeri Medan (UNIMED)
Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Medan
(//rfa)

Musang Berbulu Domba


Foto : dok.pribadi
AMERIKA yang kita kenal sebagai Negara Adidaya mencoba menyakiti umat Islam di dunia dengan cara melecehkan Nabi Muhammad SAW yang telah diakui kearifannya oleh musuh-musuhnya kala itu.
Secara otomatis seluruh umat Islam di dunia melakukan protes besar-besaran mengecap film bertajuk “Innocent of Muslims" yang disutradarai oleh Nakoula Basseley Nakoula, pria berumur 55 tahun keturunan Mesir penganut Kristen Koptik.

Entah apa motif pembuatan film tersebut, akan tetapi secara esensial film tersebut telah menyakiti umat Islam yang ada di belahan dunia. Memang Amerika Serikat (AS) telah menyampaikan rasa kecewa dan menyesali terhadap pembuatan film tersebut, akan tetapi perbuatan melecehkan Islam tidak hanya terjadi hari ini saja.

Tentu umat Muslim masih ingat pembuatan karikatur Nabi Muhammad di Denmark oleh Kurt Westergaard, isu pembakaran al-quran di Amerika oleh pendeta Danny Allen dan Pendeta Bob Old, saat ini adalah pembuatan film "Innocent of Muslims" dan penerbitan karikatur Rasulullah di perancis.

Ini semua terlihat ada upaya (Amerika dan Eropa) ingin menghancurkan Islam dan popularitas Rasulullah sebagai suri tauladan bagi seluruh manusia. Nabi Muhammad dan Alquran telah dijaga oleh Allah SWT jadi siapapun yang mencoba memusnahkan Alquran dan memfitnah Rasulullah mustahil bisa dan tidak akan bisa karena Allah yang menjaga atau melindungi.

Sebagai umat Islam tentu kita tidak akan diam melihat perilaku orang-orang yang benci dengan agama kita. Berunjuk rasa, mengecam hingga memboikot produk-produk mereka, harus kita lakukan agar ada efek jera kalau tidak mereka (Amerika dan Eropa) akan selalu semena-mena memperlakukan umat Islam yang dianggap seperti macan ompong.

Amerika dan Eropa terkesan senang dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyulut kemarahan umat Islam yang ada di dunia. Setelah menyakiti mereka akan segera meminta maaf atau klarifikasi melalui media-media.

Ada peribahas mengatakan “bagai musang berbulu domba”, yang artinya di depan kita bersikap baik, lembut, dan bersahabat, namun di balik itu jika kita lengah atau lemah kita akan dimakan, dicaplok sampai habis. Itulah mereka yang menganggap Islam itu baik akan tetapi dibelakang mereka mencoba merusak ajaran rosululah dan rosulnya.

Ada baiknya umat Islam saat ini sadar, umat Islam saat ini sedang di olok-olok oleh mereka yang membenci ajaran-ajaran Islam. Ucapan kang Said Aqil Siroj (Ketua PBNU) di TVOne seharusnya membuka mata kita sebagai umat Muslim, bangsa Eropa sampai hari ini masih ingat (dendam) dengan peristiwa runtuhnya Kerajaan Romawi dan yang menaklukan adalah umat Islam pada masa itu. Oleh karenanya umat Islam hari ini harus lebih pintar dibandingkan mereka yang membenci Islam.

Ahmad Halim
Mantan Ketua Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
Universitas Ibnu Chaldun Jakarta
(//mrg)
 

Bagaimana Anda Sebagai Mahasiswa ?

Tari Kreasi Mahasiswa Berasrama UPP PGSD PAREPARE

Copyright © 2012. Mahasiswa Indonesia - All Rights Reserved