Headlines News :

BEM UI Tak Inginkan Pjs Rektor


JAKARTA - Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh menunjuk Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Djoko Santoso tidak disambut baik pihak Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI.

Foto: dok. Okezone
Meski belum mendengar kabar resmi tentang penunjukan Pjs rektor UI tersebut, Ketua BEM UI Faldo Maldini menegaskan, pihaknya tetap menginginkan Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri lengser dari kursi kepemimpinan di UI sebelum masa jabatannya habis.

"BEM UI tidak melihat siapa yang ditunjuk sebagai Pjs rektor. Kami tetap tidak terima Gumilar dilepaskan masa jabatannya pada 14 Agustus nanti. Kami tetap meninginkan rektor lepas jabatan pada 12 Agustus," ujar Faldo ketika dihubungi Okezone, Kamis (9/8/2012).

Dirjen Dikti Kemendikbud Djoko Santoso akan menempati kursi Pjs rektor UI hingga terpilihnya rektor definitif Oktober mendatang. Pihak Majelis Wali Amanah (MWA) UI sendiri sudah mengetahui penunjukan ini dan berharap menerima surat resminya dari Mendikbud, Jumat, 10 Agustus besok.

(rfa)

Sulap Limbah Minyak Goreng Menjadi Biodiesel

Image: Corbis

SEMARANG - Tiga siswa kelas XI SMA 1 Kesatrian Semarang, Febriansyah Ramadhan, Hernanda Akautsar Rabbani, dan Amelinda Diana Patricia patut mendapat acungan jempol. Dari penelitian yang mereka lakukan, ketiganya berhasil menciptakan sumber energi baru berupa biodiesel dari limbah minyak goreng. Dari penelitian itu pula, mereka berhasil menyabet juara III pada Kelompok Peneliti Muda (KPM) Expo ke-7 yang diselenggarakan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), baru-baru ini.

Ketiganya yang merupakan satu tim Kesatrian Science Club (KSC) ini harus berhadapan dengan 51 kelompok lain dari berbagai SMA di Tanah Air. Pada ajang tersebut, mereka mengangkat judul penelitian "Pemanfaatan Limbah Minyak Goreng Bekas Menjadi Biodiesel Menggunakan Katalis Enzim Lipase Hasil Isolasi dari Bekatul sebagai Alternatif Bio Energi Ramah Lingkungan".

Melalui penelitian tersebut, salah satu persoalan lingkungan akibat limbah minyak goreng yang umumnya dibuang ke saluran air dapat dimanfaatkan kembali menjadi biodiesel. "Biodiesel yang dihasilkan dari penelitian anak-anak mampu terbakar dengan sempurna. Hal itu teruji dari sejumlah tes yang dilakukan di laboratorium," beber Pembina, sekaligus Koordinator KSC, Edy Sulistyono, kemarin.

Dia menyebut, pada bidang penelitian, pihak sekolah secara serius ingin mencetak peneliti-peneliti muda dari siswanya. "Secara resmi di sekolah kami ada 70 tim peneliti yang dibentuk. Dari situ kemudian dilakukan seleksi ketat unuk dipilih satu mewakili sekolah pada ajang-ajang tertentu. Seperti yang baru-baru ini kami ikuti," ungkapnya.

Dari segi anggaran, pihak sekolah juga menggelontorkan dana Rp28 juta per tahun untuk membentuk para peneliti muda tersebut. "Bahkan, di lingkungan sekolah, setiap setengah tahun sekali diadakan lomba karya ilmiah remaja. Ini untuk mendorong kreativitas para siswa," imbuhnya.

Amelinda, anggota tim KSC menyebut, saat mengikuti KPM Expo, timnya tidak mengalami kesulitan berarti. Sebab, penelitian ini sebenarnya sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan ekspo. Hasil penelitian yang mereka lakukan itu juga pernah diikutkan pada lomba serupa di Universitas Negeri Semarang (Unnes) awal September lalu.

"Pada saat itu kami baru berhasil menjadi nomor lima. Itu semua terjadi karena persiapan yang kami lakukan kurang matang. Dari kegagalan itu, kami kemudian memperdalam materi untuk memperbaikinya," ucap Amelinda. (susilo himawan/koran si)(//rfa)

Serba-Serbi Beasiswa


Image: Corbis
BAGI mereka yang berminat menempuh studi di luar negeri, beasiswa adalah salah satu cara untuk mendukung cita-cita tersebut. Berbagai negara juga telah banyak menyediakan beasiswa untuk para pelajar Indonesia. Seleksi yang ketat membuat tidak semua pelamar diterima. Selain itu, informasi yang tidak lengkap juga terkadang menggagalkan kita mendapatkan beasiswa yang kita incar.

Perburuan beasiswa sejatinya dimulai sejak pencarian informasi tentang lowongan beasiswa itu sendiri. Nah, sebagai bekal dalam berburu beasiswa, ada baiknya kita mengenal berbagai hal tentang beasiswa, terutama beasiswa luar negeri.

Harus pintar?

Salah seorang anggota mailing list (milis) beasiswa, Ronald, bercerita, banyak orang menyangka, agar mendapatkan beasiswa kita harus memiliki nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) tinggi. "Beberapa beasiswa memang mensyaratkan prestasi akademik. Tetapi kenyataannya, banyak juga mahasiswa dengan nilai IPK rata-rata mendapatkan beasiswa," kata Ronald, seperti dikutip Okezone dari milis beasiswa Yahoo Groups, Kamis (23/8/2012).

IPK tidak menjadi penentu utama karena seleksi beasiswa juga biasanya mensyaratkan wawancara. Ronald mengimbuh, di antara beasiswa yang mensyaratkan prestasi akademik adalah HSP Huygens. Pendaftar beasiswa dari Belanda ini haruslah berada dalam lima persen lulusan terbaik di angkatannya. Tetapi, kata Ronald, tidak ada salahnya mencoba. "Saya pernah bertemu dua mahasiswa yang mendapat HSP Huygens tapi IPK-nya dua koma sekian sekian," imbuhnya.

Batas umur

Umumnya, lembaga pemberi beasiswa memasang angka 35 tahun sebagai batas maksimal dalam seleksi pendaftaran beasiswa magister (S-2). Di antara program beasiswa yang mensyaratkan umur maksimal 35 tahun adalah STUNED, beasiswa Kemenkominfo, dan beasiswa Monbukagakusho.

Pengalaman kerja

Beberapa beasiswa mensyaratkan pengalaman kerja minimal dua tahun. Tetapi, syarat ini bukanlah harga mati.

Ronald mengilustrasikan, lowongan beasiswa di Kemenkominfo memberi syarat. "Diutamakan memiliki pengalaman kerja minimal dua tahun," dia mengimbuhkan. Diutamakan, kata Ronald, bukan berarti harus. "Jadi, bisa saja ada yang pengalaman kerjanya kurang dari dua tahun diterima," ujar Ronald.

Selain masa bakti, pengalaman kerja di bidang yang relevan dengan yang dilamar juga bisa menguntungkan kita seperti beasiswa Erasmus Mundus (International Master in Industrial Management). Ronald menyebut, pengalaman kerja tidak selalu menjadi harga mati. "Tetapi, pengalaman tersebut akan membantu kita memahami materi kuliah," imbuhnya.

Waktu lulus

Beberapa beasiswa ada yang memasang persyaratan bahwa si pendaftar adalah mahasiswa tingkat akhir. Atau, jika sudah lulus, maka tahun kelulusan pendaftar tersebut tidaklah lebih dari satu tahun. Jadi, kebalikan dari beasiswa yang mensyaratkan pengalaman kerja, beasiswa jenis ini benar-benar mencari para fresh graduates.

Wawancara

Menurut Ronald, bisa dipastikan, akan selalu ada sesi wawancara dalam proses seleksi beasiswa. Jenisnya beragam, misalnya wawancara psikologi dan panel, serta dengan bahasa pengantar berbeda juga, bisa bahasa Indonesia, Inggris, atau bahasa ibu negara tujuan.

Dia berujar, pertanyaan yang diajukan dalam sesi wawancara ini biasanya seputar motivasi kuliah di luar negeri, topik riset yang akan diambil, hingga bayangan tentang akan jadi apa kita dalam 10 tahun mendatang.

"Meskipun kadang-kadang wawancara ngelantur ke mau menikah di usia berapa, kalau bayi kamu lahir mau diapain (pertanyaan ke salah satu peserta yang lagi hamil gede, langsung sama peserta tsb dijawab: ya dirawat Pak), siapa perdana menteri Jepang?" kata Ronald.

Meski begitu, ujar Ronald, ada juga beasiswa yang tidak mencantumkan wawancara sebagai bagian dari seleksi. Hal yang menentukan diterima atau tidaknya pelamar adalah pada kelengkapan berkas aplikasi yang dikirimkan.

"Sepanjang pengalaman saya, beasiswa Erasmus Mundusnya Uni Eropa dan Beasiswa HSP Huygensnya Belanda hanya menyeleksi dokumen," imbuhnya.(rfa)

Beasiswa Unggulan untuk Entrepreneur Muda


Image: Corbis
JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia menggandeng PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) dalam program beasiswa khusus bagi entrepreneur muda. Bertajuk Beasiswa Unggulan Teknologi Industri Kreatif (BUTIK) CIMB Niaga, program ini ditujukan bagi para mahasiswa yang juga merupakan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah yang melandaskan usahanya pada prinsip sosial dan lingkungan (eco-social entrepreneurship).

Persyaratan umum program ini adalah, pendaftar merupakan warga negara Indonesia (WNI) berusia maksimal 25 tahun saat mengikuti program BUTIK. Program ini terbuka bagi mahasiswa dari perguruan tinggi negeri maupun swasta di seluruh Indonesia. Pendaftar adalah mahasiswa semester lima untuk jenjang S-1 dengan IPK minimal 2,75 selama empat semester berturut-turut, dan semester tiga untuk jenjang pendidikan vokasi dengan IPK minimal 2,75 selama dua semester berturut-turut.

Selain itu, pendaftar juga harus memiliki usaha aktif sedikitnya enam bulan, menyerahkan laporan usaha, dan lolos seleksi yang ditetapkan oleh CIMB Niaga dan Kemendikbud. Syarat usaha sudah berjalan selama enam bulan ini tidak harus dibuktikan melalui surat berbadan hukum, tetapi dapat memberikan bukti otentik waktu usaha mulai berjalan.

Secara khusus, penyelenggara program mencari kandidat penerima beasiswa yang telah melaksanakan inisiatif usaha yang berorientasi pada solusi masalah eco-sosial. Kandidat juga harus mampu memberi rencana pengembangan usaha yang efektif, berkesinambungan, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Selain itu, pendaftar juga harus memiliki rekening CIMB Niaga dan mampu memberikan rencana stategis penggunaan produk perbankan CIMB Niaga sebagai pendorong laju pengembangan usahanya. Jika beruntung, penerima BUTIK CIMB Niaga akan mendapatkan biaya pendidikan, biaya hidup dan subsidi modal usaha.

Nah, jika semua kualifikasi tadi sudah terpenuhi, saatnya menyiapkan berkas lamaran yang diperlukan. Dalam berkas tersebut, lampirkan fotokopi KTP, fotokopi transkrip nilai yang sudah dilegalisasi selama empat semester berturut-turut, dan fotokopi kartu tanda mahasiswa (KTM) dan surat keterangan dari kampus yang menyatakan bahwa kita masih terdaftar sebagai mahasiswa di kampus tersebut.

Berkas ini juga harus dilengkapi dengan laporan bisnis dengan konten berikut ini:
- Bab I:  Esai minimal 500 karakter yang menampilkan Profil Bisnis. Esai ini disertai dokumen pendukung company profile dalam format .pdf.

- Bab II:  Laporan keuangan yang meliputi Harga Pokok Penjualan,  Harga Jual Produk/Jasa, Laba Kotor per Unit,  Laporan Total Penjualan, Total Laba Kotor per Bulan, Biaya Operasional per Bulan, dan Laba Bersih.

- Bab III: Esai minimal 500 karakter tentang cara pemasaran produk.

- Bab IV:  Esai minimal 500 karakter berisi paparan rencana stategis penggunaan produk perbankan CIMB Niaga sebagai pendorong laju pengembangan usaha.

- Bab V: lampiran-lampiran berupa foto dokumentasi aktivitas bisnis, maksimal tiga; fotokopi rekening transaksi tiga bulan terakhir; fotokopi laporan keuangan tiga bulan terakhir, jika lolos seleksi, maka peserta wajib menunjukkan laporan keuangan asli; dan legal dokumen seperti akta notaris, surat izin usaha, tanda daftar perusahaan (jika ada).

Pendaftaran program BUTIK CIMB Niaga ini dibuka hingga 28 September 2012. Pendaftaran dilakukan secara online melalui email ke cimbniagascholarship@cimbniaga.co.id. Ingin informasi lengkap, silakan klik laman http://scholarship.cimbniaga.com.(rfa)

Marak Tawuran, Razia Pelajar Perlu Digalakan


Ilustrasi  Siswa SMA/Rifa Nadia Nurfuada(Okezone)

JAKARTA - Untuk meminimalisasi aksi tawuran antarpelajar pihak sekolah tentu memiliki cara-cara tersendiri. Mulai dari memberikan pemahaman, penambahan kegiatan esktrakulikuler, maupun merazia barang-barang berbahaya yang mungkin dibawa oleh siswa.
Menurut Guru Bimbingan Konseling (BK) SMAN 1 Bekasi Sumi, cara untuk mengatasi aksi tawuran adalah dengan terus-menerus mengingatkan dampak dari tauwran. "Setiap upacara bendera atau Masa Orientasi Siswa (MOS) kami selalu memberikan pemahaman kepada siswa apa dampak dari tawuran. Terutama aspek hukum yang dapat menimpa mereka," ujar Sumi ketika berbincang dengan Okezone melalui telepon, Kamis (27/9/2012).

Dia menyebutkan, pihak sekolah pun cukup rutin melakukan pemeriksaan terhadap barang-barang bawaan siswa. "Kami punya sebuah esktrakurikuler, yakni pelajar siaga yang sering memeriksa apa saja yang sering dibawa anak-anak ke sekolah. Jika memang ada barang berbahaya maupun benda tajam, maka akan dirazia dan disita," tukasnya.

Kemudian, lanjutnya, ada peraturan yang menetapkan siswa dilarang ke luar lingkungan sekolah selama kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung. "Setiap hari ada guru piket yang tidak akan memberikan izin kepada siswa untuk ke luar sekolah selama KBM untuk alasan apapun. Kecuali ada izin keluar dari orangtua," papar Sumi.

Meski mengaku jika siswa sekolahnya tidak pernah terlibat tawuran, Sumi selalu memberikan nasihat maupun pesan kepada para muridnya. "Memang ada lokasi rawan di titik-titik tertentu. Tapi kami selalu mengingatkan anak-anak, jika KBM telah selesai dan tidak ada kegiatan bermanfaat yang dilakukan, maka mereka harus langsung pulang. Kami juga mengingatkan agar mereka tidak memicu perkelahian, emosi tidak mudah terpancing, dan menghindari keributan," tuturnya.
(mrg)

Demonstrasi Juga Perlu Etika!


Ardhy Dinata Sitepu (Foto: dok. pribadi)

ALAM demokrasi memberikan ruang ekspresi yang terbuka bagi setiap orang untuk menyuarakan aspirasinya secara bebas dan terbuka. Saat ini, kebebasan dalam berpendapat adalah hak bagi setiap warga negara, tidak ada satu pun aturan perundang-undangan yang melarang seseorang untuk mengemukakan pendapatnya di muka umum. Ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia sudah mengenal dan mengakui hak-hak individu, terutama hak mengemukakan pendapat di muka umum. Sebenarnya, jika dilihat dari sejarah, kebebasan berpendapat di muka umum bukan merupakan warisan sejarah abad modern. Jauh sebelum AS melakukan ekspansi ideologi demokrasi, bangsa Indonesia sudah mengenal budaya unjuk rasa yaitu pada masa Keraton Surakarta. Ketika itu, unjuk rasa didefinisikan sebagai bagian kontrol sosial terhadap kebijaksanaan raja atau istana.
Meskipun Indonesia sudah dikatakan mapan, baik dari sejarah maupun pengalaman dalam berdemokrasi, namun budaya demontrasi di Indonesia kerap kali dijalankan dengan cara-cara yang anarkis. Tindakan anarkis para demonstran dalam merespons film  “Innocent of Muslims” di depan kedutaan AS di Jakarta merupakan salah satu bentuk penyimpangan dalam berdemokrasi. Kontroversi atas film  “Innocent of Muslims” memang patut untuk dikecam bersama, karena telah menghina hal yang paling fundamental dalam tradisi agama Islam. Meskipun demikian, tidak ada pembenaran atas perilaku anarkis selama proses demonstrasi berlangsung.

Gelombang protes atas film “Innocent of Muslims” seirama dengan Yasmin Revolusion di Timur Tengah. Gelombang protes ini bergerak secara cepat dalam model yang hampir mirip. Gelombang ini bermula dari Timur Tengah hingga menyebar ke Asia dan seluruh dunia. Dari berbagai aksi protes di depan kedutaan AS di berbagai negara, kecenderungan yang terjadi adalah aksi kekerasan yang disertai perusakan dan pembunuhan. Bahkan di Libya, empat orang diplomat AS terbunuh selama gelombang aksi yang dilakukan pada 11 September lalu. Gelombang protes ini juga terjadi di negara-negara lainnya seperti Tunisia, Pakistan, Indonesia hingga Australia.

Aksi demontrasi dengan kekerasan dan pengerusakan notabenenya hanya menimbulkan kerugian bagi rakyat Indonesia. Selama protes film  “Innocent of Muslims” ini, ormas-ormas yang melakukan demonstrasi telah merusak fasilitas umum dan melakukan kekerasan terhadap pihak keamanan. Pada dasarnya, biaya perbaikan fasilitas umum tersebut akan ditanggung kembali oleh rakyat Indonesia sendiri. Selain itu, perusakan terhadap kedutaan AS di Indonesia merupakan tindakan yang dapat mengancam posisi Indonesia di dunia internasional dan eksistensi hubungan Indonesia-AS. Dalam etika dunia diplomasi, keberadaan kantor perwakilan negara (Extra Ordinary Territory) merupakan wilayah yang tidak boleh disentuh, bahkan oleh hukum negara penerima.

Sebenarnya, aksi protes bisa dilakukan dengan cara yang bijak dan cerdas. Saat ini kita sama-sama menyadari bahwa aksi unjuk rasa sering kali diabaikan oleh pihak penguasa karena tidak memberikan pengaruh yang besar. Bahkan terkadang, aksi unjuk rasa hanya sekadar tindakan seremonial simbolis. Padahal bentuk protes untuk merespons pembuatan  film  “Innocent of Muslims” bisa dilakukan dengan cara yang lebih mengena, seperti  pemboikotan produk-produk AS yang ada  di Indonesia. Gerakan seperti ini diharapkan akan memiliki efek jera yang berdampak sistemik sehingga bisa mendorong AS untuk menindak tegas pembuat film  “Innocent of Muslims” yang dikecam dunia internasional.

Ardhy Dinata Sitepu
Ketua BEM FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Periode 2012-2013
(//rfa)

Demokrasi yang Sehat!


Opialeta Putri (Foto: dok. pribadi)

GELOMBANG penolakan dan kecaman terhadap film yang berjudul ''Innocence of Muslims'' terus saja terjadi di berbagai belahan dunia, tanpa terkecuali di Indonesia. Film ini pertama kali diposting ke Youtube pada 1 Juli 2012 namun tidak begitu menarik perhatian publik. Lalu stasiun televisi Mesir Al-Nas menayangkan cuplikan film tersebut pada 8 September 2012. Film ini pun mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan diposting online. Lalu dalam beberapa hari telah dilihat oleh ratusan ribu orang.
Film ini menggambarkan Islam sebagai agama penuh kekerasan dan Nabi Muhammad sebagai orang bodoh serta haus kekuasaan. Ini diawali dengan adegan di mana sebuah keluarga Koptik di Mesir yang diserang oleh sekelompok umat Islam sementara polisi nampak diam saja. Lalu, sang ayah berkata kepada putrinya bahwa umat Islam ingin membunuh semua orang Kristen.

Gambaran selanjutnya adalah berkisah tentang kehidupan Nabi Muhammad, keluarganya dan para pengikutnya di padang pasir. Dalam film ini digambarkan Muhammad berhubungan seks dengan istrinya, Khadijah dan wanita lainnya. Trailer film ini juga menggambarkan Muhammad dan pengikutnya sebagai pembunuh, perampok dan pemeras.

Memang sudah sepatutnya dan wajar kalau umat Muslim di seluruh belahan dunia marah dan mengecam keras terhadap beredarnya film ini. Namun yang perlu diperhatikan tindakan penolakan itu selayaknya jangan sampai merugikan orang lain. Tentunya boleh saja kita berdemo, menyampaikan aspirasi dengan cara yang baik. Jangan terpancing isu-isu provokatorik yang justru akan memecah tali persatuan antara sesama muslim. Toh kita diajarkan untuk saling menyayangi dan menghormati satu sama lain, bukan?

Jadilah masyarakat yang cerdas, tidak mudah terpengaruh isu SARA, mencoba menelaah setiap kejadian yang ada, jangan mudah terbakar emosi sesaat. Praktikkanlah demokrasi yang sehat dan bertanggung jawab, demokrasi yang pada akhirnya dapat memberikan dampak yang signifikan untuk sesama. Tak ada gunanya demonstrasi yang hanya menghabiskan waktu, tenaga, dan tentunya jangan sampai memakan korban jiwa.

Opialeta Putri
Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
PHN Humas Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia
(//rfa)
 

Bagaimana Anda Sebagai Mahasiswa ?

Tari Kreasi Mahasiswa Berasrama UPP PGSD PAREPARE

Copyright © 2012. Mahasiswa Indonesia - All Rights Reserved